Karya Ilmiah “Penyebab penyebaran Berita Hoax di Media Sosial”




Karya Ilmiah 
Penyebab penyebaran Berita Hoax di Media Sosial


A. Latar Belakang Masalah
Meningkatnya angka penggunaan media sosial di Indonesia, ternyata diiringi dengan meningkatnya konten-konten hoax/berita miring capai 800 ribu konten per tahun
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kepolisian RI memaparkan angka penyebaran konten berita hoax yang sangat tinggi. Bahkan di tahun politik ini, makin meningkat
Menurut laporan reporter BuzzFeed Craig Silverman, sesuai kategori usia, golongan penyebar hoaks paling besar adalah warga usia 65 tahun atau lebih (golongan usia tertua). Besarannya mencapai 11 persen. Sementara penyebar berita miring untuk golongan usia 18 sampai 29 tahun hanya 3 persen (golongan usia termuda).

B. Rumusan Masalah
1.       Apa saja faktor yang mempengaruhi mengapa Generasi Tua rentan menjadi penyebar berita miring ?
2.       Bagaimana cara mencegah dan memberi pemahaman berita miring pada kaum Milenial ?

C. Tujuan Penelitian
Untuk mencari solusi terhadap penyebaran berita hoax/tidak benar yang sekarang sedang marak di bagikan oleh netizen baik dari Generasi Tua maupun dari Generasi Milenial guna untuk memberi pemahaman cara menyikapi berita Hoax atau berita yang belum jelas sumbernya tersebut.

Pembahasan
Berita Hoax ataupun Berita Miring hampir setiap kali kita jumpai di berbagai platform terkhusus Facebook & Twitter, berita miring sering kali menjadi jalan pintas untuk mempopulerkan Blog, Akun Medsos, bahkan sebagai jalan pintas dalam pentas politik tujuannya jelasnya untuk  menipu atau mengakali pembaca maupun pendengarnya dengan memberikan informasi agar dipercayai. Mengecoh perhatian dan mendoktrin para pembaca.
Riset tidak sampai membedah jawaban mengapa golongan tua lebih banyak berstatus sebagai penyebar berita miring namun didapat beberapa teori mengenai mengapa golongan tua rentan menjadi penyebar berita miring
Pertama, orang tua lebih terlambat mengenal dan menggunakan internet dan media sosial dibanding generasi yang lebih muda (milenial dan generasi Z). Literasi digital mereka rendah.
Kedua, adalah persoalan biologis yang membuat kemampuan kognitif mereka menurun seiring bertambahnya usia, sehingga lebih rentan tertipu hoaks
Kita sebagai kaum milenial memiliki peran penting dalam menjaga dan mengantisipasi terjadinya penyebaran, sebagai kaum milenial seharusnya bisa lebih paham dan lebih mengerti menyikapi berita hoax.
Berikut lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli. Berikut penjelasannya :
·         Hati-hati dengan judul provokatif
Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

·         Cermati alamat situs
Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan, menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita, dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

·         Periksa fakta
Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat, Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh, Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

·         Cek keaslian foto
Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca, cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

·         Ikut serta grup diskusi anti-hoax
Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci, di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.


Penutup
Kesimpulan
Generasi Milenial maupun Generasi Tua sama-sama memiliki tanggung jawab atas apa yang dibagikan, itu kenapa Literasi Digital sangat penting di aplikasikan kesetiap sendi–sendi masyarakat, terlepas dari apa yang di bagikan masyarakat Pemerintah juga punya peran untuk mengedukasi masyarakatnya tidak bisa kita hanya menyalahkan segelintir orang, karena pemerintah juga punya andil dalam penyebarannya.


Komentar